Dugaan Kelalaian MBG, 11 Korban Alami Keracunan di Kapas

Foto: Ilustrasi Korban MBG
Bojonegoro, MIMBARBANGSA.COM — Program Makan Bergizi (MBG) kembali menjadi sorotan tajam setelah sedikitnya 11 orang dilaporkan mengalami gangguan kesehatan usai mengonsumsi makanan yang didistribusikan di wilayah Kecamatan Kapas, Kabupaten Bojonegoro, Rabu (15/4/2026).
Insiden ini terjadi sekitar pukul 09.00 WIB, tak lama setelah makanan dibagikan di SD Model Terpadu Desa Sukowati serta menjangkau wilayah Desa Tikusan. Para korban dilaporkan mengalami gejala serupa, mulai dari mual, muntah, pusing, hingga nyeri perut.
Data lapangan menunjukkan bahwa korban tidak hanya berasal dari kalangan siswa. Dua ibu hamil warga Desa Tikusan turut terdampak. Nurida Indriani dilaporkan mengalami muntah hingga enam kali, sementara Nurul Yulita mengalami keluhan serupa dengan intensitas tinggi.
Selain itu, sedikitnya tujuh anak dari jenjang PAUD hingga sekolah dasar mengalami muntah berulang disertai sakit perut. Dua tenaga pendidik PAUD, yakni Ibu Izza dan Ibu Fani, juga dilaporkan mengalami kondisi yang sama.
Seluruh korban telah mendapatkan penanganan medis dari Puskesmas Kapas. Kondisi mereka dilaporkan telah tertangani, meski peristiwa ini menyisakan kekhawatiran serius di tengah masyarakat.
Menu yang dikonsumsi korban diketahui berupa mi instan bercita rasa pedas. Makanan tersebut disuplai oleh Dapur SPPG Plesungan 2 yang dikelola oleh Yayasan Pelita Gizi Makmur 2.
Namun, polemik tidak berhenti pada dampak kesehatan semata. Distribusi makanan yang tidak hanya terbatas di lingkungan sekolah, melainkan juga menjangkau warga sekitar, memunculkan tanda tanya besar terkait sistem pengawasan dan mekanisme distribusi dalam program tersebut.
Di tengah minimnya keterbukaan informasi, muncul pula sejumlah dugaan yang menjadi perhatian publik. Salah satunya menyangkut kualitas air yang digunakan dalam proses pengolahan makanan. Selain itu, muncul spekulasi mengenai kemungkinan makanan yang didistribusikan bukan dalam kondisi segar, melainkan makanan sisa produksi yang dibagikan ulang tanpa standar keamanan pangan yang ketat.
Hal ini menjadi krusial mengingat jenis makanan berupa mi instan umumnya dikonsumsi dalam kondisi segar setelah dimasak. Jika terjadi jeda distribusi tanpa pengelolaan suhu yang tepat, potensi kontaminasi dapat meningkat secara signifikan.
Pihak dapur menyebut bahwa menu disiapkan berdasarkan permintaan dari sekolah. Namun, pernyataan tersebut justru mempertegas dugaan lemahnya standar baku dalam penentuan menu, proses pengolahan, hingga distribusi makanan dalam program MBG.
Minimnya transparansi dari pihak sekolah maupun pengelola dapur semakin memperkeruh situasi. Di sisi lain, kekhawatiran masyarakat terus meningkat, terutama terkait keamanan konsumsi makanan dalam program yang seharusnya bertujuan meningkatkan kualitas gizi tersebut.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Bojonegoro, Ninik Susmiati, menyatakan bahwa pihaknya telah turun langsung ke lokasi untuk melakukan penyelidikan epidemiologi.
“Dinkes sudah cek lokasi untuk melakukan penyelidikan epidemiologi dan mengambil sampel untuk diuji di laboratorium. Sampel meliputi makanan, air, dan peralatan,” ujarnya saat dikonfirmasi.
Ia juga menambahkan bahwa kewenangan penghentian program berada pada pihak terkait. Berdasarkan informasi di lapangan, kegiatan MBG disebut akan dihentikan sementara mulai hari berikutnya sebagai langkah antisipatif.
Sementara itu, hingga berita ini diterbitkan, pihak pengelola SPPG, Nita, belum memberikan keterangan resmi terkait insiden tersebut.
Kasus ini menjadi alarm keras bagi pelaksanaan program Makan Bergizi, khususnya dalam aspek pengawasan dan standar higienitas. Tanpa sistem kontrol yang ketat, transparansi pengelolaan, serta prosedur distribusi yang terukur, program yang dirancang untuk meningkatkan kesehatan masyarakat justru berpotensi menimbulkan risiko baru.
Posting Komentar