Nias Selatan, MIMBARBANGSA.COM — Sejumlah ruas jalan vital di Kabupaten Nias Selatan dilaporkan mengalami kerusakan serius akibat cuaca ekstrem dalam beberapa hari terakhir. Hujan deras yang tak henti mengguyur wilayah ini memicu longsor di sejumlah titik, sehingga akses utama warga Boronadu dan Onolalu terancam benar-benar terputus.
Laporan paling krusial datang dari Desa Sinarhelaowo, Kecamatan Boronadu, pada ruas penghubung Boronadu–Gomo. Material longsor terus bergerak dan menyempitkan badan jalan. Warga menyebut bahu jalan kini hanya bisa dilintasi satu kendaraan dan dalam kondisi sangat berbahaya.
“Jika tidak segera diperbaiki, akses ini bisa putus total. Kami masih harus lewat meski takut,” keluh beberapa warga Boronadu yang ditemui di lokasi.
Jalan tersebut bukan sekadar jalur antar-kecamatan. Ia merupakan nadi mobilitas warga—mengangkut hasil pertanian, distribusi kebutuhan pokok, akses menuju fasilitas kesehatan, hingga jalur pendidikan anak-anak. Ketika jalan mulai runtuh, ekonomi warga pun ikut runtuh bersamanya.
Masyarakat Boronadu mendesak Dinas PUTR Nias Selatan segera turun ke lokasi. Mereka berharap pemerintah menurunkan alat berat dan melakukan penanganan darurat setidaknya untuk membuka akses sementara. Di sisi lain, warga juga menuntut Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) bertindak cepat mengingat kejadian ini sudah masuk kategori darurat bencana.
Di waktu yang hampir bersamaan, kondisi serupa terjadi di Kecamatan Onolalu. Longsor besar menutup ruas jalan dari Telukdalam menuju Onolalu di Km 7 Areal Lanu, Desa Hilikara, Senin (24/11).
Camat Onolalu Darnis Harita, ST., MA, membenarkan longsor tersebut kepada wartawan.
“Longsor membuat akses jalan menuju Onolalu terputus. Curah hujan tinggi beberapa hari terakhir menggerus tebing dan badan jalan,” ujar Darnis.
Menurutnya, setelah berkoordinasi melalui sambungan telepon dengan pimpinan daerah, Wakil Bupati Nias Selatan Ir. Yusuf Nache, ST, MM menjanjikan tim gabungan dari Dinas PUPR dan BPBD akan turun meninjau lokasi pada Selasa (25/11) pagi.
“Pemkab sudah merespon, tim teknis akan datang untuk melihat kerusakan dan kemungkinan penanganan,” tambahnya.
Meski demikian, imbauan kewaspadaan tetap disampaikan kepada warga dan pengguna jalan. Darnis meminta masyarakat agar tidak memaksakan diri melintas di titik rawan dengan kondisi hujan masih berlanjut.
“Kami mengimbau warga tetap waspada menghadapi cuaca ekstrem. Keselamatan harus diutamakan,” tegasnya.
Salah satu warga Onolalu yang enggan disebut namanya menyebut kerusakan jalan bukan fenomena baru.
“Jalan ini satu-satunya akses. Banyak titik longsor yang terjadi tahun sebelumnya belum ditangani. Masyarakat tidak bisa menunggu saat kondisi seperti ini,” ujarnya.
Kerusakan beruntun di dua kecamatan ini membuka kembali luka lama Nias Selatan: infrastruktur yang rapuh menghadapi hujan. Minimnya tindakan preventif, drainase buruk, dan kontur tanah tebing tanpa penguatan membuat jalan rawan hilang kapan saja.
Dalam situasi seperti ini, respons cepat tak bisa ditunda. Penanganan sementara harus dilakukan sambil menyiapkan solusi permanen: talud penahan, perbaikan struktur badan jalan, hingga pemetaan ulang area rawan bencana.
Redaksi MIMBAR BANGSA mengajak Pemerintah Kabupaten Nias Selatan bertindak responsif dan tepat sasaran. Jalan bukan sekadar aspal yang dilintasi kendaraan, tetapi jantung kehidupan masyarakat. Menunda berarti mempertaruhkan keselamatan dan masa depan warga.

0Komentar