GpYoGfM7BSA6BSAlTUY0BUG0TY==
Breaking
Hot News

Vivergo Runtuh Setelah Kesepakatan Dagang Inggris–AS, Bobibos Indonesia Jadi Sorotan Dunia

Vivergo di Hull resmi tutup akibat kesepakatan dagang Starmer–Trump, sementara Bobibos Indonesia menarik perhatian dunia.
Ukuran huruf
Print 0

Proses konversi jerami menjadi bahan bakar Bobibos Indonesia.
Bobibos, bahan baku nabati dari jerami asli buatan Indonesia. (Beritasatu.com/Saepul Jaenudin)

Jakarta, MIMBARBANGSA.COM — 
Pabrik bioetanol Vivergo di Hull resmi berhenti beroperasi setelah terdampak kesepakatan dagang antara Perdana Menteri Keir Starmer dan Presiden Amerika Serikat Donald Trump, memicu gelombang pemutusan hubungan kerja dan mengancam masa depan ribuan pekerja di sektor pertanian serta transportasi terkait industri bioetanol Inggris.

Pengumuman penutupan dilakukan manajemen Associated British Foods (ABF), selaku pengelola Vivergo, hanya beberapa jam setelah pemerintah Inggris memastikan tidak akan memberikan dukungan pendanaan untuk menyelamatkan industri bioetanol nasional. Keputusan tersebut berdampak langsung terhadap 160 pekerja di pabrik Vivergo dan diperkirakan mengancam hingga 4.000 pekerjaan lainnya dalam rantai pasokan. Pemutusan hubungan kerja pertama dijadwalkan dimulai pada Selasa.

Bioetanol selama ini menjadi salah satu alternatif bahan bakar rendah emisi yang dihasilkan dari komoditas pertanian—terutama gandum. Dengan tutupnya Vivergo, masa depan para petani gandum yang selama ini menjadi pemasok utama bahan baku industri energi hijau tersebut berada dalam ketidakpastian. ABF menyebut penutupan ini sebagai “konsekuensi yang tidak dapat dihindari” setelah pemerintah menghentikan seluruh rencana dukungan strategis bagi industri bioetanol nasional.

Isu semakin mencuat setelah diketahui bahwa kesepakatan dagang Inggris–AS yang digagas pemerintahan Starmer membuka keran impor etanol bebas bea dari Amerika. Kuota impor etanol mencapai 1,4 miliar liter—setara dengan total kapasitas pasar Inggris. Kebijakan tersebut memberi keuntungan besar produsen Amerika untuk masuk ke pasar Inggris tanpa hambatan tarif, membuat Vivergo dan Ensus, dua produsen domestik terbesar di Inggris, berada di bawah tekanan kompetisi yang tak seimbang.

Pihak ABF mengungkapkan bahwa mereka telah melakukan dialog intensif sejak Juni, saat pertemuan awal dengan pemerintah. Saat itu, manajemen memperingatkan bahwa perjanjian bebas bea menjadi “ancaman serius” bagi keberlanjutan industri serta kesejahteraan petani gandum. Namun, pemerintah tetap mengutamakan sektor otomotif, baja, dan kedirgantaraan yang mempekerjakan sekitar 320.000 pekerja. Tarif impor mobil AS diturunkan dari 27,5% menjadi 10%, sementara tarif baja tetap 25% namun masih dalam negosiasi ulang.

Di sisi lain, sumber dari Serikat Petani Nasional menyebutkan bahwa negosiator AS menuntut akses lebih luas terhadap pasar daging babi dan etanol Inggris sebagai imbalan atas pemotongan tarif mobil dan baja. Para petani menilai langkah ini menempatkan mereka dalam posisi paling rentan: tanpa subsidi, tanpa perlindungan tarif, dan tanpa jaminan akses pasar jangka panjang.

Ironisnya, di saat Inggris menutup fasilitas bioetanol strategisnya, Indonesia justru menarik perhatian global melalui produk bahan bakar nabati Bobibos (Bahan Bakar Original Buatan Indonesia, Bos!). Diperkenalkan sebagai inovasi energi hijau, Bobibos bahkan mengeklaim mampu menekan emisi hingga mendekati nol, sebuah capaian yang jarang ditawarkan produk bahan bakar alternatif lain.

Menurut Founder Bobibos M Iklas Thamrin, bahan bakar ini memanfaatkan jerami—limbah pertanian yang melimpah di berbagai daerah Indonesia—sebagai bahan baku utama. Bobibos tidak hanya mengurangi emisi, namun juga memberi nilai ekonomi baru bagi petani. “Ada lima tahapan utama yang harus dilewati hingga akhirnya menghasilkan bahan bakar nabati berkinerja tinggi,” jelas Iklas. Proses tersebut menggunakan teknik ekstraksi biokimia dengan mesin hasil pengembangan internal yang meningkatkan efektivitas konversi energi.

Bobibos awalnya sempat meneliti mikroalga sebagai bahan baku, namun hasilnya belum mampu menyaingi jerami dari sisi efisiensi produksi. Saat ini Bobibos telah memproduksi dua varian bahan bakar: bensin dan solar berbasis tumbuhan. Pada tahap uji coba, bahan bakar ini telah diterapkan pada berbagai kendaraan mulai dari Honda BeAT, Toyota Alphard, hingga Nissan Navara diesel. Hasilnya, performa mesin tetap stabil dan emisi asap sangat rendah.

Fenomena ini memperlihatkan kontras mencolok: ketika Inggris, negara maju berteknologi tinggi, kehilangan momentum energi hijau akibat tekanan geopolitik, Indonesia justru membuka peluang besar melalui inovasi mandiri yang berbasis sumber daya lokal.

Vivergo Runtuh Setelah Kesepakatan Dagang Inggris–AS, Bobibos Indonesia Jadi Sorotan Dunia
Periksa Juga
Next Post

0Komentar

Tautan berhasil disalin