Wabup Nias Selatan Hadiri Musda I AMAN, Dorong Penguatan Hak Masyarakat Adat
Nias Selatan, MIMBARBANGSA.COM — Upaya memperkuat keberadaan dan hak-hak masyarakat adat di Tano Niha kembali mendapat perhatian serius. Hal itu terlihat dalam pelaksanaan Musyawarah Daerah (Musda) ke-1 Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) Kabupaten Nias Selatan yang berlangsung di Balai Pertemuan Komunitas Adat Mbanua Taluzusua, Desa Hilisaooto, Kecamatan Siduaori, Selasa (9/6/2026).
Kegiatan yang mengusung tema “Memperkuat Gerakan Masyarakat Adat yang Berdaulat, Mandiri dan Bermartabat di Tano Niha” tersebut dihadiri langsung oleh Wakil Bupati Nias Selatan, Ir. Yusuf Nache, S.T., M.M., yang sekaligus tampil sebagai narasumber dalam sesi diskusi.
Dalam sambutannya, Wakil Bupati Yusuf Nache menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya Musda pertama AMAN di Kabupaten Nias Selatan. Ia juga menyampaikan ucapan selamat datang kepada Sekretaris Jenderal Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN), Rukka Sombolinggi, beserta seluruh peserta yang hadir dari berbagai komunitas adat di wilayah Nias Selatan.
Menurutnya, kehadiran AMAN dan terselenggaranya Musda tersebut diharapkan mampu memberikan dampak positif bagi kehidupan sosial masyarakat, khususnya dalam menjaga dan memperkuat eksistensi lembaga adat di tengah perkembangan zaman.
“Kegiatan ini diharapkan tidak hanya terbatas pada beberapa komunitas atau Ori saja, tetapi dapat menjangkau seluruh Ori yang ada di Kabupaten Nias Selatan,” ujar Yusuf Nache.
Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa lembaga adat memiliki peran strategis sebagai mitra pemerintah daerah. Selain menjadi wadah pemersatu masyarakat adat, keberadaan lembaga tersebut juga diharapkan mampu mendukung berbagai program pembangunan yang dijalankan pemerintah daerah.
Salah satu topik penting yang menjadi fokus pembahasan dalam Musda tersebut adalah pentingnya pemetaan partisipatif wilayah adat dan penyusunan profil sejarah masyarakat adat sebagai langkah mendorong percepatan pengakuan, perlindungan, serta pemenuhan hak-hak masyarakat adat di Kabupaten Nias Selatan.
Pembahasan ini dinilai penting mengingat masyarakat adat memiliki keterikatan yang kuat dengan wilayah, budaya, dan sistem sosial yang telah diwariskan secara turun-temurun. Melalui pemetaan wilayah adat yang partisipatif, diharapkan keberadaan masyarakat adat dapat terdokumentasi secara lebih jelas dan memperoleh pengakuan yang lebih kuat dalam berbagai kebijakan pembangunan.
Sementara itu, Ketua Panitia Musda, Witasa Halawa, dalam laporannya menyampaikan bahwa salah satu tujuan utama pelaksanaan Musda kali ini adalah untuk memilih Badan Pengurus Harian (BPH) AMAN Nias Selatan periode pertama.
Menurutnya, pembentukan kepengurusan yang definitif menjadi langkah awal dalam memperkuat organisasi masyarakat adat di daerah tersebut sehingga dapat menjalankan program-program pemberdayaan dan advokasi secara lebih terarah.
Kegiatan Musda berlangsung dengan suasana penuh semangat kebersamaan dan partisipasi dari berbagai elemen masyarakat adat yang hadir.
Turut hadir dalam kegiatan tersebut Sekretaris Jenderal AMAN, Rukka Sombolinggi, Anggota DPRD Nias Selatan dari Fraksi PKB Tohuzisokhi Buulolo, S.Th, Kepala Dinas Pariwisata, Kebudayaan, Pemuda dan Olahraga Anggreani Dachi, S.P., M.Si, Camat Siduaori Budiman Hulu, S.E, Camat Idanotae Sadarmeiman Buulolo, S.Pd, Ketua FKUB Nias Selatan Pdt. Luluhati Telaumbanua, S.Th, Kepala Desa Hilisaooto, tokoh masyarakat, tokoh adat, serta para peserta Musda dari berbagai komunitas adat.
Peserta yang hadir berasal dari Mbanua Hilimbaruzo, Mbanua Hilibuulawa Kecamatan Amandraya, Mbanua Hilianaa Hoya Kecamatan Mazo, Mbanua Hilimbowo Kecamatan Idanotae, serta Mbanua Taluzusua Desa Hilisaooto Kecamatan Siduaori.
Musda pertama AMAN Nias Selatan ini menjadi momentum penting untuk memperkuat konsolidasi masyarakat adat sekaligus membangun sinergi dengan pemerintah daerah dalam menjaga nilai-nilai budaya, adat istiadat, serta memperjuangkan hak-hak masyarakat adat secara berkelanjutan.
Redaksi Mimbar Bangsa mengapresiasi terselenggaranya Musda I AMAN Nias Selatan sebagai ruang dialog dan konsolidasi masyarakat adat. Diharapkan hasil musyawarah ini mampu memperkuat persatuan masyarakat adat sekaligus mendukung pembangunan daerah yang menghormati nilai budaya dan kearifan lokal Tano Niha.

Posting Komentar