Nias Selatan, MIMBARBANGSA.COM - Tulisan ini ditulis oleh Waoli Lase, seorang putra Nias yang pernah menghabiskan kurang lebih 14 tahun hidup di Ibu Kota Negara. Ia memulai karier jurnalistiknya pada tahun 2011, bekerja di berbagai media, belajar memahami dinamika pembangunan, kebijakan publik, dan denyut kehidupan masyarakat urban. Pada tahun 2019, ia memutuskan kembali ke tanah kelahirannya di Nias Selatan—sebuah keputusan yang membuka matanya terhadap realitas yang selama ini terabaikan.
Sejak kembali ke Kepulauan Nias, Waoli melihat satu persoalan besar yang tidak pernah benar-benar disentuh secara serius: ketergantungan total masyarakat dan pemerintah daerah terhadap pasokan dari luar. Selama bertahun-tahun, pola ini dibiarkan tumbuh seperti akar yang menancap kuat, hingga akhirnya menjadi budaya baru yang seolah tidak bisa dipatahkan.
Ketergantungan yang Mengakar
Kepulauan Nias berada terpisah dari Pulau Sumatera. Semua orang tahu letaknya jauh, di lingkaran laut yang setiap musim bergolak. Yang mungkin tidak disadari banyak orang adalah betapa rapuhnya posisi Nias ketika seluruh kebutuhan dasarnya bergantung penuh pada kapal-kapal dari luar.
Beras, gula, minyak goreng, telur, sayuran, daging, bahan bangunan, hingga bahan bakar minyak—hampir semuanya datang dari luar pulau. Ketika cuaca normal, masyarakat mungkin merasa semuanya baik-baik saja. Tetapi begitu angin barat datang, gelombang tinggi muncul, dan kapal tidak bisa bersandar, seluruh sistem kehidupan langsung terguncang.
Dalam beberapa minggu terakhir, hal itu terlihat jelas. Cuaca ekstrem membuat kapal barang tidak dapat berlayar, sehingga pasokan sembako menipis dan harga melonjak naik. BBM ikut terimbas, membuat biaya transportasi, produksi, dan perdagangan semakin mencekik masyarakat kecil.
Lebih ironis lagi, di tengah situasi sulit itu, jaringan telekomunikasi dan listrik justru semakin memburuk. Listrik hidup-mati seperti kunang-kunang yang tidak tentu arah, sementara sinyal telepon hilang muncul tanpa kepastian. Dua kebutuhan dasar modern itu menjadi kemewahan yang tidak selalu bisa dinikmati.
Janji yang Tak Pernah Menetas
Selama hampir lima tahun mengamati langsung perkembangan di Kepulauan Nias, Waoli melihat sikap lima kepala daerah di wilayah ini yang masih tampak abai terhadap pemenuhan kebutuhan pokok masyarakat.
Pertanian—yang seharusnya menjadi tulang punggung kemandirian pangan—lebih sering dijadikan teks kampanye, bukan prioritas pembangunan. Setiap masa pemilihan, masyarakat disuguhi janji-janji besar: revitalisasi lahan, peningkatan produksi, pembangunan sentra pertanian, penguatan UMKM, dan sebagainya. Namun ketika masa jabatan hampir berakhir, janji itu hanya menjadi angin surga tanpa wujud nyata.
Padahal, Kepulauan Nias memiliki tanah subur, laut yang kaya, dan sumber daya alam yang cukup untuk mengurangi ketergantungan pada pulau lain. Tetapi tanpa arah kebijakan yang konsisten, potensi itu hanya menjadi deretan kalimat indah di atas kertas.
Kemandirian yang Belum Diupayakan
Krisis yang berulang ini menunjukkan bahwa Nias belum bergerak keluar dari pola lama. Daerah kepulauan seharusnya punya strategi khusus untuk memastikan ketahanan pangan dan energi: mulai dari optimalisasi lahan pertanian, pengembangan kolam ikan terintegrasi, peningkatan peternakan lokal, hingga pemanfaatan energi terbarukan seperti tenaga surya dan angin.
Namun di Nias, arah itu belum tampak secara konkret. Masyarakat tetap menunggu kapal datang. Pedagang tetap menunggu barang tiba. Pemerintah tetap menunggu anggaran turun. Sebuah lingkaran ketergantungan yang tidak pernah ada ujungnya.
Jika pola ini terus dibiarkan, maka setiap musim angin barat, setiap gelombang tinggi, dan setiap gangguan listrik akan terus menjadi cerita lama yang terulang. Masyarakat akan tetap dalam posisi rentan, sementara pihak luar terus memegang kendali atas harga dan pasokan kebutuhan sehari-hari.
Membuka Jalan Baru
Sudah saatnya Nias mulai membangun dari dalam. Bukan dengan cerita manis, tetapi dengan strategi jangka panjang yang fokus pada tiga pilar utama:
1. Kemandirian Pangan
Pengelolaan lahan pertanian, teknologi pertanian sederhana, bibit unggul, hingga pengembangan pasar lokal harus menjadi prioritas nyata.
2. Kemandirian Energi
Pemanfaatan energi surya dan angin bisa mengurangi ketergantungan pada BBM, terutama untuk daerah terpencil yang selama ini paling sering gelap.
3. Infrastruktur Informasi
Telekomunikasi dan listrik bukan lagi kebutuhan sampingan. Di era digital, keduanya adalah tulang punggung ekonomi, pendidikan, dan pemerintahan.
Tanpa ketiga pilar ini, Nias akan terus berada dalam posisi “menunggu uluran tangan”, bukan berdiri di atas kekuatannya sendiri.
Kesimpulan
Tulisan ini bukan sekadar kritik, tetapi ajakan untuk bercermin. Cuaca ekstrem hanyalah pemicu, tetapi masalah sebenarnya terletak pada ketergantungan struktural yang dibiarkan selama puluhan tahun. Jika kepala daerah hanya menjadikan pertanian sebagai komoditas kampanye, jika masyarakat hanya menunggu pasokan dari luar, dan jika tidak ada keberanian mengambil langkah besar, maka Nias tidak akan pernah maju.
Kepulauan Nias memiliki potensi besar. Yang dibutuhkan hanyalah kemauan untuk memerdekakan diri dari pola lama, membangun kemandirian, dan memastikan bahwa nasib masyarakatnya tidak lagi ditentukan oleh gelombang laut, kapal barang, atau janji politik yang tidak pernah ditepati.

0Komentar